Sabtu, 02 April 2011

Media Sosialisasi

Keluarga (kinship)
Keluarga sebagai agen sosialisasi,
merupakan kelompok sosial
terkecil dalam masyarakat. Keluarga
Inti (nuclear family) yang terdiri
atas ayah, ibu, dan anak-anak serta
orang lain yang ada dalam keluarga
tersebut ikut menjadi media sosialisasi
bagi anak. Pada masyarakat
yang mengenal sistem keluarga luas
(extended family) agen sosialisasi
berjumlah lebih banyak, antara lain
paman, bibi, kakek, nenek, dan
sebagainya, di samping kedua
orang tuanya.
Dalam keluarga ada beberapa faktor yang bersifat
universal dan memengaruhi pembentukan kepribadian anak,
yaitu sebagai berikut.
1) Sifat otoriter orang tua
Sifat otoriter yang berlebihan dapat menimbulkan
konflik dalam diri anak terutama di dalam masyarakat
modern yang makin kompleks. Dalam masyarakat
tradisional sifat otoriter orang tua lebih besar dan lebih
lama, sehingga sifat tersebut menjadi tradisi yang
diwariskan. Akan tetapi pada masyarakat modern anak
umumnya mengalami emansipasi yang akan menirunya
kembali segala nilai yang ditanamkan padanya.
2) Larangan Incest
Incest adalah perkawinan yang terjadi di kalangan
keluarga sendiri atau perkawinan sedarah. Larangan
incest mendorong seseorang mencari pasangan di luar
kalangan keluarga.
3) Persaingan untuk mendapat kasih sayang
Persaingan di dalam hidup keluarga menjadi pendorong
bagi seseorang anak untuk mencari hubungan sosial
di luar kalangan keluarga. Orang tua harus mendorong
perkembangan pribadi anak, yaitu memperlakukan
anak dengan penuh kasih sayang.
Dalam keluarga dikenal dua macam pola sosialisasi
yaitu sebagai berikut.
a) Sosialisasi represif
Sosialisasi represif yaitu sosialisasi yang mengutamakan
ketaatan anak pada orang tua.
Sosialisasi ini lebih menekankan penggunaan
hukuman terhadap anak yang melakukan
kesalahan.
Contoh: memukul anak apabila tidak menaati
perintah orang tua.
Sosialisasi semacam ini salah satu sifatnya
hanya terjadi satu arah (terletak pada orang
tua saja).
Adapun bentuk sosialisasi represif, antara lain
sebagai berikut.
– Menghukum perilaku keliru.
– Kepatuhan anak terhadap orang tua.
– Komunikasi sebagai perintah.
– Komunikasi nonverbal.
– Sosialisasi berpusat pada orang tua.
– Anak memerhatikan keinginan orang tua.
– Dalam keluarga pengaruh didominasi
orang tua (ayah).
Sarana sosialisasi yang paling ampuh adalah bahasa,
kata-kata tidak harus baik, jahat, dan sebagainya.
Sarana tersebut merupakan alat penting untuk
membentuk hati nurani seseorang. Selain itu, bahasa
juga menjadi perantara dalam proses pengembangan
diri.
b) Sosialisasi persuasif
Sosialisasi persuasif yaitu sosialisasi yang mengutamakan
tindakan pencegahan agar anak tidak
melakukan penyimpangan sosial.
Contoh: tindakan pemberian peringatan dari
orang tua kepada anak, ketika anak ingin
keluar malam. Peringatan tersebut, misalnya
kalau biasa sering keluar malam
kesehatan bisa memburuk, terlambat ke
sekolah, dan sebagainya.
 b. Teman sepermainan
Teman sepermainan merupakan sosialisasi
dalam keluarga. Dalam kelompok
bermain mulai mempelajari aturan dan peran
yang berlaku bagi orang-orang yang berkedudukan
sama (sederajat). Dalam kelompok
bermain anak mulai mengenal dan mempelajari
nilai-nilai keadilan. Dalam tahap ini
pikiran anak masih bersifat egosentris, belum
dapat menilai pendirian orang lain pada
umumnya tujuan kegiatan kelompok bermain
yang bersifat rekreatif.
Pada usia remaja kelompok bermain
berkembang menjadi kelompok persahabatan
yang lebih luas. Perkembangan itu disebabkan
oleh bertambah luasnya ruang lingkup
pergaulan remaja baik di sekolah maupun di
luar sekolah.
Peranan positif dari kelompok persahabatan terhadap
perkembangan kepribadian anak sebagai berikut.
1) Remaja merasa aman dan dianggap penting dalam
kelompok persahabatan.
2) Remaja dapat tumbuh dengan baik dalam kelompok
persahabatan
3) Remaja mendapat tempat yang baik bagi penyaluran
rasa kecewa, takut, khawatir, tertekan, gembira yang
kemungkinan tidak didapatkan di rumah.
4) Remaja dapat mengembangkan keterampilan-keterampilan
sosial yang berguna bagi kehidupannya kelak.
5) Remaja lebih bersifat dan bersikap dewasa.
Selain peranan positif, ada kemungkinan timbul
peranan negatif, misalnya: melalui kelompok persahabatan
yang disebut dengan “Geng” atau “klik geng”. Kelompok
persahabatan “Geng” atau “klik geng” adalah kelompok
sosial yang mempunyai kegemaran berkelahi atau membuat
keributan, bahkan tidak jarang mereka minum-minuman
keras dan memakai obat-obat terlarang.
Klik adalah kelompok kecil tanpa struktur formal yang
anggotanya mempunyai pandangan dan kepentingan yang
sama.
c. Sekolah
Pada masyarakat tradisional yang masih sangat
sederhana (primitif ) keluarga merupakan lembaga paling
dominan dalam proses sosialisasi. Tetapi pada masyarakat
modern fungsi menyosialisasikan anak diganti oleh lembaga
formal yang disebut sekolah.
Fungsi pendidikan sekolah sebagai media sosialisasi
sebagai berikut.
1) Memberikan pengetahuan dan
keterampilan yang diperlukan
untuk mengembangkan daya
intelektual agar siswa dapat
hidup layak.
2) Membentuk kepribadian siswa
agar sesuai dengan nilai-nilai
dan norma-norma yang ada dalam
masyarakat.
3) Melestarikan kebudayaan dengan
cara mewariskannya dari
satu generasi ke generasi selanjutnya.
4) Merangsang partisipasi demokrasi
melalui pengajaran keterampilan
berbicara dan mengembangkan kemampuan
berfikir secara rasional dan bebas.
Untuk mencapai tujuan tersebut, sekolah memiliki dua
jenis kurikulum yaitu sebagai berikut.
1) Kurikulum nyata (real curricullum), yang membuat
sejumlah mata pelajaran yang disampaikan di sekolah.
2) Kurikulum tersembunyi (hidden curricullum), yang
berupa aturan-aturan sopan santun, cara berpakaian
yang rapi, penghargaan terhadap waktu/kedisiplinan
dan berfikir serta bersikap sistematis.
Sosialisasi melalui sistem pendidikan formal (sekolah)
cukup efektif karena di samping membaca, menulis,
dan berhitung di sekolah juga diajarkan mengenai
kemandirian (independence), prestasi (achievement),
dan kesamaan kedudukan (universalisme).
d. Sosialisasi di lingkungan kerja
Lingkungan kerja juga mempunyai pengaruh yang
besar dalam pembentukan kepribadian seseorang. Di
lingkungan kerja seseorang akan berinteraksi dengan teman
sekerja, dengan pimpinan, dan dengan relasi bisnis.
Kelompok kerja sangat beragam, karena terbentuk dari
berbagai bidang keahlian dan jenis pekerjaan. Dalam
hubungan sosial di lingkungan kerja setiap orang harus
menjalankan peranan sosial dengan kedudukannya.
Peranan ini akan menghasilkan sikap tertentu yang
memengaruhi tindakan sebagai anggota masyarakat.
e. Sosialisasi melalui media massa
Media massa terdiri atas media
cetak (seperti surat kabar dan majalah)
dan media elektronik (seperti radio,
televisi, video, film, piringan hitam dan
kaset). Media massa memiliki peranan
penting dalam proses sosialisasi. Kehadiran
media massa sangat memengaruhi
tindakan dan sikap anggota
masyarakat terutama anak-anak. Nilainilai
dan norma yang disampaikan akan
tertanam dalam diri anak melalui penglihatan
maupun pendengaran. Apabila
informasi yang diterima positif sesuai
dengan norma yang berlaku dalam
masyarakat maka akan terbentuk
kepribadian yang positif, misalnya penayangan tentang
dunia pendidikan, agama, dan lain-lain. Sebaliknya jika
informasi yang disampaikan negatif maka akan membentuk
kepribadian anak yang kurang baik, misalnya penayangan
film yang menonjolkan kekerasan akan mendorong perilaku
agresif pada anak-anak yang melihatnya.

1 komentar: